Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Diare persisten didefinisikan sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai suatu diare cair akut atau diare berdarah (disentri ).  Diare persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit sprue, gluten sensitive enteropathi . Menurut Walker-Smith diare persisten sebagai diare mulai secara akut tetapi bertahan lebih dari 2 minggu setelah onset akut.  Dari delapan studi kumunitas di Asia dan Amerika Latin didapat persentase diare persisten antara 3 sampai 23% dari seluruh kasus diare.

Artikel Selengkapnya :

Pencegahan Diare Persisten

 

Oleh :
Deddy Satriya Putra
Bagian Ilmu Kesehatan Anak 
FK UNRI/ RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

 

Definisi

Diare persisten didefinisikan sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai suatu diare cair akut atau diare berdarah (disentri ).1 Diare persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit sprue, gluten sensitive enteropathi .1 Menurut Walker-Smith diare persisten sebagai diare mulai secara akut tetapi bertahan lebih dari 2 minggu setelah onset akut. 2

Angka kejadian


Dari delapan studi kumunitas di Asia dan Amerika Latin didapat persentase diare persisten antara 3 sampai 23% dari seluruh kasus diare. Pada tujuh studi lainnya insiden diare persisten sangat bervariasi. Di India insiden diare persisten pertahun sekitar 7 kasus tiap 100 anak yang berumur 4 tahun atau kurang.3 Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian.  Laporan Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa penyakit Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%). Hasil survei morbiditas diare menunjukan penurunan angka kesakitan penyakit diare yaitu dari 423 per 1.000 penduduk pada tahun 2006 turun menjadi 411 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. 4 Di Indonesia  didapatkan bahwa penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak adalah diare 31,4% Demikian pula penyebab kematian anak balita (usia 12-59 bulan),terbanyak adalah diare 25,2%. . WHO CDC program tahun 1991 melaporkan kejadian diare persisten di Indonesia pada bayi sekitar 4%. Estimasi dari WHO dan UNICEF tahun 1991 mengatakan bahwa diare persisten merupakan 10% dari kejadian diare dengan kematian sebesar 35% pada anak di bawah 5 tahun.6
 

Pencegahan Diare persisten


I. Pencegahan Primer


Pencegahan primer adalah pencegahan terjadinya diare akut.   
Langkah langkah pencegahan terjadinya diare akut:
1. Peningkatan penggunaan Asi.
Beberapa peneliti telah mengumpulkan data penelitian dari puluhan Negara mengenai dampak pemberian ASI terhadap angka kesakitan dan angka kematian bayi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengunaan ASI akan menurunkan angka kesakitan sebesar 8-20% dan angka kematian 24-27% selama 6 bulan pertama kehidupan pada bayi, Pada Balita penurunan angka kesakitan sebesar 1-4 % dan angka kematian sebesar   8-9%7. Penggunaan Asi akan mencegah terjadinya risiko alergi di awal kehidupan dan juga meningkatkan proteksi tubuh terhadap berbagai infeksi selain diare seperti pneumonia.
2. Vaksinasi Rotavirus
WHO memperkirakan pada tahun 2008 sekitar 453.000 (420.000 – 494.000) kematian disebabkan oleh karena diare rotavirus di seluruh dunia, kematian ini memberikan kontribusi sekitar 5% dari semua kematian anak karena kasus spesifik dari 86 kematian per 100.000 anak dibawah usia 5 tahun. Hampir 90% kematian oleh karena rotavirus terjadi pada negara-negara miskin di Afrika dan Asia yang berhubungan dengan rendahnya pelayanan kesehatan 9Pengembangan vaksin rotavirus sangat penting bagi Indonesia agar dapat menurunkan kematian pada anak dan mencapai MDG4. Dari sebuah studi kohort yang melibatkan 4,2 juta anak Indonesia, diperkirakan bahwa adanya imunisasi rutin dengan vaksin Rotavirus dapat mencegah 8148 kematian, 176.375 kasus rawat inap dan 488.547 rawat jalan karena diare di Indonesia.10
3. Imunisai campak
Imunisasi campak secara subtansial dapat menurunkan kejadian dan beratnya diare sehingga setiap bayi mesti diberikan imunisasi campak sesuai jadwalnya.8 Program imunisasi campak yang mencakup 90 % pada bayi berumur 9-11 bulan dengan keefktifan sebesar 90% dapat menurunkan angka kesakitan diare sebesar 1,8% dan anagka kematian sebesar 13% pada bayi dan balita .11  
4. Pemberian Vit A
Diare dapat menyebabkan penurunan absorpsi dan peningkatan kebutuhan vitamin A. Pada anak yang mengalami defisiensi vitamin A dengan diare akut atau diare persisten akan cepat terjadinya kelaian mata berupa xerophtalmia dan dapat menimbulkan kebutaan. Ini menjadi masalah khusus bila diare terjadi segera setelah infeksi campak atau pada anak dengan gizi buruk. 8
 
Tujuh langkah yang direkomendasikan WHO untuk pengendalian diare secara komprehensif. Langkah-langkahnya adalah: penggantian cairan untuk mencegah dehidrasi, terapi zink, vaksinasi rotavirus dan campak, ASI eksklusif dan suplementasi vitamin A, membiasakan cuci tangan dengan sabun, meningkatkan suplai air bersih, dan peningkatan sanitasi komunitas. Aspek-aspek baru dari pendekatan ini termasuk vaksinasi untuk rotavirus , yang diperkirakan menyebabkan sekitar 40 persen dari rawatan  rumah sakit karena diare pada anak balita diseluruh dunia.  Dalam hal sanitasi masyarakat luas , pendekatan baru  dalam meningkatkan penyuluhan untuk menghentikan buang air besar di tempat terbuka  terbukti lebih efektif daripada strategi sebelumnya . Diperkirakan sekitar 88% kematian pada penderita diare di seluruh dunia karena disebabkan air yang tidak aman ,sanitasi yang tidak memadai, hygiene dan kemiskinan. 12
 

II.  Pencegahan sekunder


Pencegahan sekunder adalah pencegahan terjadinya diare akut memanjang menjadi diare persisten.

Langkah langkah pencegahan melanjutnya diare akut adalah :
  1. Menghindari pemakain obat anti diare dan anti motilitas
  2. Menghindari pemakaian antibiotik yang tidak rasional
  3. Pemberian diet yang benar sehingga tidak terjadi malnutrisi
  4. Menanggulangi penyakit penyerta
 
Tidak ada bukti klinis efek dari anti diare dan anti motilitas dari beberapa uji klinis, obat anti diare hanya simptomatis bukan spesifik untuk mengobati kausa , tidak memperbaiki kehilangan air dan elektrolit serta menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. 13 Anti motilitas seperti difenosilat dan loperamid dapat menimbulkan paralilis obtruksi sehingga terjadi bakterial overgrowth gangguan absorpsi dan sirkulasi. 14  .
 
Antibiotika yang tidak diserap usus seperti streptomisin, neomisin, hidrokuinolon dan sulfanamid dapat memperberat atau memperpanjang lama diare, mencetuskan timbulnya mikroorganisme yang resisten dan meyebabkan malabsorpsi. 14. Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). 15  Antibiotika hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya cholera, shigella , karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Pada bayi berusia 2 bulan kebawah karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi , atau pada bayi yang menunjukan secara klinis gejala yang berat serta berulang atau yang nenunjukan diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala sepsis dapat diberikan antibiotika. 16.
 
Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada anak dengan gizi kurang . Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup. Bila tidak maka hal ini akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik .17. Pemberian kembali makan atau minuman (Refeeding ) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serat makanan pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare.17. Pada anak lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi Tajin, (beras, kentang, mie, dan pisang) dan gandum (beras, gandum dan sereal). Makanan yang harus dihindarkan adalah makanan dengan kandungan tinggi gula sederhana yang dapat memperburuk diare seperti minuman kaleng, dan sari buah. Juga makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi karena menyebabkan lambatnya pengosonga lambung. 18.  
 
Pemberian susu bebas laktosa diberikan pada penderita yang menunjukan gejala klinis dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan sehingga tidak perlu penggantian susu formula, oleh karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2-3 hari akan sembuh terutama pada anak dengan gizi baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat diperlukan  susu formula bebas laktosa. 19  Pada situasi yang memerlukan banyak energy seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik. 20
 
Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain sehingga dalam menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyakit penyerta yang ada. Baberapa penyakit penyerta  yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain, infeksi saluran nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih dan infeksi sistemik lain seperti campak, sepsis, pneumonia, kurang gizi, penyakit jantung dan ginjal. 21. Penyebab diare persisten dan penyakit penyerta yang ditemukan pada penelitian di RSCM Jakarta tahun 2005 adalah Gizi buruk 36.6%, alergi susu sapi 31.7%, Infeksi Saluran Kencing 24.4%, HIV 19.5%, Sepsis 14.6%, Pneumonia  7.3%, Gagal Ginjal 4.9%, Penyakit hati kronik 4.9%, Ensefalitis viral 2.4%, TBC Paru 4.9%, Kelainan Jantung bawaan 4.9% Penyakit Defisiensi Humoral Primer 2.4%, Hirschsprung 2.4%, Juvenil Remathoid artritis 2.4%, Juvenil Nasofaring Angiofibroma 2.4% dan Autoimun Hemolitik Anemia 2.4%. 22
 

Kesimpulan


Diare persisten adalah diare akut yang melanjut lebih dari 14 hari. Pencegahan terjadinya diare persisten berupa pencegahan primer sebelum terjadinya diare dan pencegahan sekunder untuk mencegah berlanjutnya diare akut menjadi diare persisten.
 

Kepustakaan

  
  1. WHO/CDC. Persistent diarrhoea in developing countries : Memorandum from a  WHO Meeting Bull World Health Organ 1998;66;’709 - 17
  2. Walker-Smith JA. Masalah Pediatric di bidang gastroenterology tropis dalam ;  Problem Gastroenterology daerah Tropis, Ed GC Cook edisi pertama Jakarta 2003, EGC hal 133-41
  3.  WHO.CDC. Programme and The Applied Diarrhoeal Disease Research Project (ADDR) Clinical Update ; Persistent Diarrhoea. 1992
  4.  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan Indonesia 2012. Ed,Boga Hardhana. Didik Budijanto, Vensya Sitohang, Titi Aryati Soenardi, Jakarta 2013. Hal 90-1
  5.  Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Diare di Indonesia, Dalam Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Indonesia ed .Awi Muliadi, Evida Veronika Manulang, Khairani, Winne Widiantini, Nugroho Joko Mulyanto. Volume 2, Triwulan 2 , Jakarta 2012, hal 1-10.
  6.  WHO/CHD, Persistent diarrhoea and breastfeeding . WHO division of Child Heath development Family and reproductive Health, Geneva, 1997
  7.  Feachem RG, Koblinsky MA, Intervention for the control of diarrheal diseases in young children : promotion of breasfeeding. Bull WHO 1984; 62:271-91.
  8.  World Health Organization. The Treatment of diarrhoea : a manual for physicians and other senior health workers. 4th rev. Geneva 2005
  9.  WHO. Rotavirus vaccines,  WHO position paper – January 2013 dalam Weekly epidemiological record, No 5, 1st February 2013, Geneva, 2013; 88: 49–64
  10.  Soenarto SS. Vaksin Rotavirus untuk pencegahan Diare dalam Dalam Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Indonesia Volume 2, triwulan 2, Jakarta 2011, hal 33-7.
  11.  Feachem RG, Koblinsky MA, Intervention for the control of diarrheal diseases in young children : measles immunizations.  Bull WHO 1983; 61:541-652
  12.  The United Nations Children’s Fund (UNICEF)/World Health Organization (WHO. WHO Library Cataloging-in-Publication Data Diarrhoea: Why children are still dying and what can be done. 2009
  13.  Armon K, Stephenson T, Macfaul R, Eccleston P,Werneke U, An evidence and consensus  based guideline for acute diarrhoea  management Arch Dis Child 2001;85 : 132-42
  14.  Sinuhaji AB. Peranan obat anti diare pada tatalaksana diare akut dalam Kumpulan Makalah Kongres Nasional II BKGAI.  Juli 2003.
  15.  Hegar B, Kadim M, Tatalaksana diare akut pada anak dalam Majalah Kesehatan Kedokteran Indonesia, Vol I No 06, 2003
  16.  Subianto MS, Ranuh R, Djupri L, Soeparto P. Managemen diare pada bayi dan anak. Dikutip dari URL: http://www.pediatrik.com
  17.  Baker SS, Davis AM, Hypocaloric oral therapy during an episode of diarrhea and vomiting can lead to severe malnutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr : 1998 Jul ; 27 (I) : 1-5
  18.  CDC. Recommendation and reports : The Management  of acute diarrhea in children : Oral rehydration, Maintenance and Nutritional Therapy . 1992.       
  19.  Firmansyah A. Peran obat dalam tatalaksana Diare pada anak; Dalam Majalah Kesehatan Kedokteran Indonesia  Vol I  No 07. 2003
  20.  Suharyono. Terapi nutrisi diare kronik , Pendidikan kedokteran berkelanjutkan, Ilmu Kesehtan Anak, ke XXXI, Fakultas Kedokteran Universitas  Indonesia 1994.
  21.  Ditjen PPM  & PLP Depkes RI ; Tatalaksana kasus diare bermasalah, Depkes RI 1999, 31.
  22.  Putra DS, Kadim M, Gayatri DP, Hegar B ,Boediharso A,Firmansyah A. Diare Persisten: Karakteristik Pasien, Klinis,  Laboratorium dan  Penyakit Penyerta. Sari Pediatri Vol. 10. No. 2, Agustus 2008
 

diare

Penulis

Dr. Deddy Satriya Putra, SpA(K)

Alamat :

Jalan Warta Sari No 4 Tangkerang Selatan Pekanbaru 28282
Telp : (0761) 7046469

Fax : (0761) 36533

HP: 085216983733

Kantor :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad / FK-UNRI
Jl. Diponegoro No 2 Pekanbaru
Telp : (0761) 858647

E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.




 


Edited and Published by : Klinik Dr. Rocky™

Follow Us

Most Read

  • Week

  • Month

  • All